Jumat, 06 Desember 2019

UKBM Buku Fiksi dan Non Fiksi


BUKU NON FIKSI

“Yuk, Berhijab!”

Bab 1 (Dunia Memandang Wanita)
Nasib wanita sepanjang sejarah dunia ditinjau dari segi peradaban memang menyedihkan. Dalam peradaban yunani kuno posisi wanita tak jauh dari sekedar pemuas nafsu lelaki saja sehingga pelacuran hal yang wajar. Jika dibaca dalam buku dan mitologi Yunani seringkali dewa-dewa berselingkuh dan gemar berbuat mesum serta hubungan diluar nikah bahkan Zeus sebagai dewa tertinggi pun melakukan hal yang sama sehingga menjadi inspirasi bagi lelaki Yunani Kuno pada saat itu.
Peradaban Romawi pun tak jauh beda, pandangan terhadap wanita tetap sama hanya untuk dinikmati dan dieksploitasi secara seksual diliat dari hasil karya seninya. Bahkan, seorang lelaki tidak bersalah jika membunuh istri dan anaknya. Selain Yunani dan Romawi, di India terdapat tradisi sati, yaitu sebuah prosesi membakar diri bagi janda yang ditinggal mati suaminya sebagai bagian dari loyalitas. Bahkan di peradaban Cina Kuno pun seperti itu, wanita hanya diciptakan untuk melayani lelaki dan tidak berhak menuntut ilmu. Begitu pun dengan Yahudi dan Nasrani dalam talmud dan alkitabnya.
Saat Islam bersentuhan dengan budaya Eropa, pemikiran tentang hak asasi mulai bangkit, kaum wanita menuntut kesetaraan sehingga emansipasi muncul. Namun, hal itu bukannya berakhir memuliakan wanita, tapi berujung pada penghancuran martabat wanita sendiri, karena menjauh bahkan mengingkari fitrah. Wanita barat yang memulai paham ini salah kaprah dan malah menuntut agar wanita dan lelaki dikompetisikan dalam kekuatan, kekuasaan, uang, dan kebahagiaan lain yang berstandar materi. Akhirnya muncul ketimpangan, apa pun yang bisa dilakukan lelaki, atas nama emansipasi, perempuan juga bisa. Seperti jika lelaki merokok, minum minuman keras, berganti pasangan seks, semua yang selama ini dianggap monopoli lelaki, maka wanita juga bisa. Padahal pada kenyataannya wanita dijajah untuk kesekian kalinya. Dengan rela memamerkan lekuk badannya dalam media hiburan demi ketenaran, sehingga melupakan kewajibannya.

Bab 2 (Pandangan Islam tentang Wanita)
Islam memandang bahwa kebahagiaan manusia bukan terletak pada harta, takhta, dan cinta semata tapi terletak pada ridha Allah. Karenanya, baik lelaki maupun wanita punya kesempatan yang sama untuk meraihnya dengan caranya sendiri, berlomba dengan jalur pahalanya masing-masing dan bukan beradu dengan pria yang Allah beri kelebihan berbeda. Islam menempatkan wanita dalam posisi yang sangat terhormat. Rasulullah menegaskan kehormatan dan kemulian ibu melebihi ayah tiga kali sebagai pembimbing dan pendidik utama bagi anak. Hanya di agama Islam wanita mendapatkan pengakuan dan pujian, seperti halnya seperti Rasulullah memperlakukan istrinya dengan lembut dan penuh kehormatan.
Bila Islam menjadikan lelaki sebagai pemimpin keluarga, Islam menjadikan wanita sebagai pemimpin bagi rumahnya. Walau lelaki dilebihkan Allah untuk memimpin wanita, bukan berarti lelaki dibolehkan bertindak semena-mena. Islam memandang warna berbeda dengan peradaban dan agama lain. Namun, tentu mengatur masalah teknis untuk memuliakan wanita. Islam memuliakan wanita dari aturan berpakaian dengan menutup aurat. Bagaimana wanita dihormati dengan hijab, bukan untuk mengekang, namun karunia terbaik untuk para wanita.

Bab 3 (Wanita dan Aurat)
Secara makna syariat, aurat adalah bagian tubuh yang haram dilihat, dan karena itu harus ditutup. Khusus bagi muslimah, auratnya adalah semua bagian tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan, ini adalah batasan aurat wanita dengan lelaki bukan mahram. Sedangkan batasan aurat wanita dengan lelaki mahram, wanita mukmin, dan wanita bukan mukmin berbeda. Sedangkan hukum menampakkan aurat di depan wanita yang non-Muslim, pada dasarnya para ulama berbeda pendapat mengenai ini. Pendapat kebanyakan ulama tafsir memang melarang wanita Muslimah untuk menampakkan aurat mereka dihadapan wanita non-Muslim. Maka, dalam kondisi yang tidak terpaksa, lebih baik Muslimah menutupi auratnya di hadapan wanita non-Muslim. Yang tidak ada batasan aurat hanya di hadapan suami sendiri. Bagi wanita, berhijab bukanlah pilihan, melainkan kewajiban dari Allah. Wanita harus memahami hakikat berhijab dan bagaimana seharusnya berhijab yang sesuai dengan perintah Allah.

Bab 4 (Menutup Aurat dan Pakaian Syar'i Penutup Aurat)
Menutup aurat berbeda dengan memakai pakaian syar'i (yang dibenarkan Allah) yang menutup aurat. Karena untuk keluar rumah, Allah tidak hanya mengharuskan mereka untuk menutup auratnya, tapi juga mengenakan pakaian syar'i untuk menutup auratnya. Pakaian syar'i disebut dengan hijab yang terdiri dari tiga komponen, yaitu pakaian rumah (al-tsaub), kerudung (khimar), dan jilbab.
Islam telah membagi dua kehidupan wanita, yang pertama kehidupan khusus, yaitu tempat wanita beraktivitas di dalamnya bersama para mahram dan wanita muslimah lainnya, seperti di rumah. Allah membolehkan mahram wanita Muslimah itu untuk melihat bagian tubuh wanita sampai batas tempat melekat perhiasannya, seperti leher, pergelangan tangan, ataupun pergelangan kaki (yang menjadi anggota wudhu). Artinya wanita muslimah tidak perlu menutup aurat dengan pakaian lengkapnya sebagaimana keluar rumah, cukup memakai pakaian rumah (al-tsaub), kecuali terdapat lelaki asing (non mahram) maka wanita muslimah wajib mengenakan pakaian yang menutup semua aurat ditambah dengan kain kerudung (khimar) yang menutupi kepala hingga batas dadanya.
Yang kedua adalah kehidupan umum, yaitu tempat-tempat umum ketika wanita Muslimah bertemu dan berinteraksi dengan lelaki asing (non mahram). Pada kehidupan ini wanita diisyaratkan mengenakan pakaian tambahan, jilbab untuk menutup auratnya. Menurut HR Al-Bukhari Muslim, jilbab adalah pakaian luar, pakaian rangkap yang dipakai seorang Muslimah saat keluar rumah. Jika menurut pengelompokan pendapat-pendapat ulama secara garis besar maka didaptakan dua pengertian. Pertama, jilbab adalah pakaian rangkap yang menuupi khimar dan baju rumah (khimar yang ukurannya lebih besar). Kedua, jilbab adalah pakaian rangkap yang menutupi tubuh bagian bawah selain kepala (baju kurung atau daster). Panjang jilbab harus hingga menutupi telapak kaki dan memakai kaus kaki agar aurat tertutup dengan sempurna. Jadi, pakaian syar’i penutup aurat (hijab) yaitu, pakaian rumah (al-tsaub) yang dirangkapkan jilbab diatasnya, dan dilengkapi khimar hingga batas dadanya.

Bab 5 (Berpakaian tetapi Telanjang)
            Dalam kutipan HR Muslim disebutkan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok, dan kepala mereka seperti punuk unta yang miring akan dicambuk dan tidak akan masuk surga. Imam Al-Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan makna ”berpakaian tapi telajang” dengan beberapa maksud, ada yang bermakna hakiki dan esensi. Namun, keduanya benar dan haru dihindari. Umumnya semua ulama menyepakati bahwa maknanya adalah memakai pakaian tipis atau menyingkap sebagian aurat. Sedangkan kata “berlenggak-lenggok” di dalam hadis itu adalah wanita yang tidak menjaga kehormatan dan kemaluan mereka, yaitu dengan berjalan menggoyangkan pundak mereka hingga diperhatikan lelaki (cenderung suka dengan perhatian lelaki) dan tingkahnya ditujukan untuk menggoda lelaki. Adapun kalimat “kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring” yaitu bermakna Muslimah yang menggelung atau menumpuk rambutnya keatas hingga terlihat seperti punuk unta, atau Muslimah yang mengenakan kain tambahan hingga terlihat menonjol. Maka Muslimah seharusnya tidak menggelung rambutnya keatas lebih baik gelung kebawah atau membiarkan rambut tergerai dan memanjangkan khimar.

Bab 6 (Tabarruj)
            Dalam arti yang lebih luas, hijab bukan hanya pakaian semata, tapi dapat dimaknai sebagai cara Muslimah menampakkan diri di depan public atau identitas Muslimah. Berdasarkan QS Al-Nur ayat 31, menurut pendapat Ibnu Katsir, bagian dari hijab pula bahwa wanita diharuskan menjaga pandangannya dari sesuatu yang tidak halal baginya, dan menjaga kemaluannya dari berzina. Perintah yang sama juga Allah berikan kepada lelaki. Karenanya, Muslimah juga dilarang mendandani diri dengan pakaian ataupun berhias dengan sesuatu yang dapat menarik perhatian lelaki. Syariat menyebut perilaku semisal ini dengan nama tabarruj (berhias yang berlebihan). Tabarruj adalah segala perbuatan wanita yang menarik perhatian lelaki, baik diniatkan atapun tidak. Karena itu, tabarruj biasa terjadi dengan dandanan wajah, menggunakan parfum, pakaian yang bercorak mentereng, bertingkah genit, menggoda lelaki dengan ucapan atau gaya jalan, dan hijab yang tidak sempurna.

Bab 7 (Hijab bukan Perhiasan)
            Hijab ditujukkan untuk menutupi perhiasan wanita dan melindungi keindahannya, bukan justru menjadi perhiasan baru atau pengganti keindahan. Karenanya, kerudung bukanlah pengganti keindahan rambut hingga dibentuk menyerupai rambut dan kerudung yang dibentuk segala rupa untuk mendapatkan perhatian. Karenanya, jilbab bukan pengganti kemolekan tubuh, yang ketat, lalu menampakkan lekuk badan dengan model serta warna yang ditujukkan untuk mendapat perhatian. Rasulullah mengingatkan lelaki dan wanita yang beriman kepada Allah untuk menjauhkan diri dari berpakaian guna mengejar popularitas atau hingga ia menjadi perhatian yang lainnya, atau berpakaian yang tidak lazim. Hijab bukanlah sebuah tren fashion yang modenya disesuaikan dengan zaman dan keinginan, yang harus dibuat rumit sehingga menyulitkan untuk memakainya, seharusnya hijab itu simple dan memudahkan. Jadi,hakikat jilbab adalah melindungi keindahan wanita hingga ia tidak menjadi perhatian lelaki.

Bab 8 (Kata Orang)
            Jika Muslimah menanggalkan hijabnya karena pendapat orang lain tentang dirinya itu adalah hal yang tidak seharusnya. Padahal nanti ketika di akhirat mereka berlepas diri untuk bertanggung jawab, meninggalkan kita dalam kesendirian tanggung jawab, karena mereka sudah sibuk dengan pertanggung jawaban mereka sendiri. Dan biasanya yang mengatakan hal tersebut juga tidak berhijab sehingga dia menghasut yang lain agar mendapat teman, hingga seolah apa yang dia lakukan adalah benar karena banyak pendukungnya. Tiada usai bila kita mendengarkan manusia tentang apa yang harus kita lakukan pada diri kita. Ucapan yang paling sesuai bagi kita tentu dari Pencipta, karena Dia yang tentukan neraka atau surga.

Bab 9 (Behijablah dan Taatlah)
            Tidak jarang kita menemukan komentar miring mengenai Muslimah yang berhijab, biasanya menyandingkan hijab dengan kemaksiatan yang masih dilakukan. Perlu disampaikan bahwa hijab bukanlah pernyataan “aku sudah baik” atau “aku tiada dosa” jika seperti itu tiada satu pun Muslimah yang layak mengenakannya, hijab sederhana hanya pernyataan “aku ingin taat”. Hijab adalah sebuah usaha Muslimah untuk menjauhi maksiat, pengingat bagi diri untuk senantiasa menjauhi dosa. Jangan menyalahkan hijab atas kemaksiatan yang masih melekat karena tiada korelasinya sama sekali. Hijab adalah satu kewajiban, sementara menjauhi maksiat adalah kewajiban yang lainnya. Bila ada yang beralasan hijab hati dahulu, jangan dijadikan pembenaran karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan untuk menghijab hati. Menghijab hati itu abstrak, tidak ada indikasinya sama sekali. Kalaupun alasannya memperbaiki hati dulu baru berhijab, perlu kita sampaikan bahwa berhijab itu adaah salah satu perbaikan hati, sehingga seharusnya tiada alasan untuk menunda berhijab.

Pertanyaan :
  1. Judul buku: Yuk, Berhijab!
          Tema buku: Religi
  1. Bidang ilmunya adalah ilmu Agama
  2. Iya
  3. Mudah, karena beruntut sebelumnya dijelaskan terlebih dahulu bagaimana pandangan dunia mengenai wanita dari peradaban ke peradaban hingga bagaimana Islam memandang wanita
  4. Ya bahasanya mudah dipahami, karena menggunakan bahasa kekinian sehingga tidak bosan dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan
  5. Penulis membuka tulisan dengan satu pertanyaan mendasar yang menarik lalu mengulas sedikit pembahasannya untuk selanjutnya masuk ke topik utama pembahasan. Lalu penulis mengakhiri tulisannya dengan penulisan dialog menarik seputar topik yang terakhir dibahas.


BUKU FIKSI
“Pulang”

            Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit sehingga pulang merupakan jalan yang terbaik. Berawal ketika Bujang berusia 15 tahun, seorang pemburu babi hutan yaitu Tauke Muda yang merupakan teman lama Bapak datang untuk berburu sekaligus menjemput Bujang agar ikut untuk belajar dan tinggal di Kota Provinsi. Hari itu adalah hari dimana semua rasa takut hilang dalam diri Bujang, ketika Bujang berhasil melawan Babi Hutan raksasa yang berada di pedalaman hutan rimba Sumatra, sehingga akhirnya Bujang mendapat julukan si Babi Hutan. Hari itu pun, hari ketika Bujang tahu bahwa Bapaknya adalah jagal nomor satu Keluarga Tong dan kakeknya adalah seorang jagal mahsyur pula.
Tiba di Kota Provinsi, Bujang akhirnya tahu bahwa Tauke Muda adalah anak dari Tauke Besar yang telah wafat, maka kini ialah yang menjadi Tauke Besar seorang pemimpin shadow economy di Kota Provinsi dan Bujang pun mendapat teman dekat bernama Basyir yang kamarnya berada di sebelah kamar Bujang. Bujang ternyata adalah anak yang pandai sehingga Tauke Besar ingin Bujang belajar dengan Frans mengejar ketertinggalannya, namun Bujang tidak ingin belajar. Tetapi karena ia hanya berhasil bertahan 19 menit pada amok maka ia harus mengikuti keinginan Tauke. Namun, Kopong berhasil membujuk Tauke agar mengizinkan Bujang untuk berlatih ketika malam dan pagi hingga siang untuk sekolah. Berbulan-bulan Bujang hanya berlatih berlari bolak-balik sampai kakinya melepuh. Enam bulan kemudian barulah ia dilatih tinju. Suatu hari Bujang berhasil mengalahkan kopong yang berarti Bujang membutuhkan guru baru dan seminggu kemudian Kopong membawa Guru Bushi. Bujang belajar menggunakan pedang hingga melempar shuriken. Meskipun begitu, ia tidak pernah ikut satupun pertempuran. Setelah lama tinggal bersama keluarga Tong, akhirnya Bujang menyadari betapa mahalnya perebutan kekuasaan. Nyawa pun tidak jarang menjadi korban. Setiap nama yang gugur akan diabadikan di dinding pualam sebagai penghormatan. Satu tahun tinggal di kota, Bujang berhasil mendapatkan ijazah persamaan SD dan SMP dengan nilai yang sempurna.
Kebahagiaan datang saat dirinya resmi menjadi tukang pukul seperti Bapak. Keberhasilan itu terjadi ketika Bujang menemani Tauke Besar untuk menjadi pengawal dalam menyelesaikan suatu masalah dan dia berhasil melindungi Tauke Besar dari serangan mendadak. Selanjutnya Bujang mendapat guru baru bernama Salonga. Bujang belajar menembak. Tidak mudah untuk menjadi seorang penembak jitu. Tidak terhitung berapa kali ia gagal dan dikatai bodoh oleh Salonga. Namun Bujang tidak pernah putus asa. Lagi-lagi Bujang mengalahkan gurunya. Setelah lama berlatih dan berusaha keras akhirnya Bujang berhasil menembak Salonga lebih dulu. Dan itu berarti selesai sudah berguru dengan Salonga. Sebelum akhirnya Salonga pergi, Bujang mendapat hadiah pistol colt dari Salonga.
Bujang berhasil lulus dari Universitas saat ia berumur 22 tahun. Namun, kebahagiaan itu hilang sekejap tak berbekas. Bujang mendapat surat duka dari Bapak yang memberitahukan bahwa Mamak telah tiada. Hatinya bagai diiris sembilu, menangis dalam senyap, terisak tanpa suara. Kepergian Mamak mengambil separuh semangat hidupnya. Suatu hari, Bujang mendapat kabar bahwa Guru Bushi mengundang Bujang ke Tokyo untuk menyelesaikan latihannya. Dengan perjanjian, setelah selesai, Bujang harus kembali dan berangkat ke Amerika untuk melanjutkan sekolahnya. Kabar itu cukup membuat Bujang mendapat semangatnya kembali.
Peristiwa yang sama terjadi ketika Bujang berhasil menyelesaikan pendidikannya dan memperoleh gelar master. Kepulangan Bujang disambut bahagia dan bangga oleh Tauke Besar. Tauke Besar mengadakan jamuan makan malam untuk merayakan keberhasilan. Namun kabar duka lagi-lagi menghampiri kebahagiaannya. Kabar duka datang dari Bapak. Isi suratnya memberi tahu Bujang bahwa Bapak telah tiada. Lagi-lagi kabar kematian Bapak menghilangkan semangat Bujang. Setiap kali Bujang mendengar adzan shubuh, hatinya gelisah. Semakin lama fisiknya semakin lemah, Bujang sakit parah, segera mendapatkan pertolongan dan berangsur sembuh. Semangatnya menjadi tukang pukul kembali. Beberapa tahun kemudian, Bujang sedang melanglang buana kebanyak tempat. Berkat Kopong yang menceritakan apapun tentang Bapak dan Mamak, Bujang semakin tahu masa lalu kedua orang tuanya.
Suatu hari, sebelum keluarga Tong pindah ke ibu kota, keluarga Tong mendapat serangan mendadak oleh kelompok Arab dari pabrik tekstil. Tak ada satupun tukang pukul di rumah. Pertahanan Tauke besar terkalahkan. Tauke besar kehabisan amunisi ketika menyerang mereka, terdesak. Namun kesempatan itu digunakan Bujang untuk membuktikan bahwa ia pantas menjadi tukang pukul dan peristiwa itu sekaligus pengalaman pertama Bujang merasakan bagaimana rasanya membunuh.
Ketiga, sewaktu Bujang telah berlatih tiba-tiba Tauke mengajaknya ke Hong Kong untuk menemui kepala keluarga penguasa China daratan, Master Dragon, Shang namanya. Ketika Tauke sedang menjelaskan masalah sebenarnya, tiba-tiba tukang pukul Shang menyerang Tauke Besar. Bujang lah yang maju, dia sudah siap sejak awal. Bujang berhasil mengalahkan mereka.
Peristiwa terakhir yang paling menegangkan yaitu ketika pengkhianatan datang dari anggota keluarga Tong sendiri. Basyir selama ini ternyata telah merencanakan serangan besar untuk merebut kekuasaan keluarga Tong. Peristiwa ini berawal ketika Basyir berkata kepada Bujang bahwa Tauke Besar meminta bujang segera pulang. Sesampainya di rumah, ternyata Tauke tidak sedang menunggu Bujang ataupun meminta ia segera pulang. Tauke Besar bahkan tidak tahu kalau Bujang menyadari yang terjadi saat ini bukan ancaman serangan, tapi ini adalah pengkhianatan balas dendam. Langsung saja Bujang memberitahukan Joni untuk segera menekan tombol darurat, mengaktifkan pertahanan bangunan utama. Basyir berkhianat, dia sengaja membuat Bujang, Parwez, dan Tauke berada dirumah.
Tidak butuh waktu lama setelah alarm darurat berbunyi, tanda-tanda serangan mulai terdengar. Anggota Brigade Tong berusaha menyerang terlebih dahulu sebelum Basyir tiba di markas. Prinsip Bujang hanya satu, bertahan selama mungkin. Saat anggota Brigade Tong mulai terdesak, tiba-tiba Basyir muncul dari balik dinding. Ternyata Basyir bekerja sama dengan putra tertua keluarga Lin. Awalnya Basyir mampu mengalahkan Bujang, menawarkan agar Bujang menyerah saja tapi Bujang tetap bersikeras sampai akhirnya Basyir menyerang kembali dengan khanjar-nya. Serangan itu membuat tubuh Bujang terpelanting mendarat di ranjang Tauke Besar. Saat itu juga Tauke menekan tombol darurat terakhir. Lantai dibawah tempat tidur merekah, ranjang pun meluncur. Sedetik kemudian lantai merapat kembali. Itu jalur darurat yang disiapkan Kopong. Hanya Tauke Besar dan Kopong yang tahu.
Bujang, Tauke, dan Parwez melewati lorong evakuasi yang tersambung di halaman sebuah rumah, itu adalah rumah Tuanku Imam, kakak tertua dari mamak Bujang. Beliau membawa rombongan ke tempatnya. Tauke Besar gugur saat itu juga dan di kebumikan dengan nama alias. Seperti yang sudah-sudah Bujang kembali terpuruk karena kematian. Kini ia tidak punya siap-siapa lagi. Semenjak selama itu Bujang semakin benci dengan suara adzan, ia akan resah setiap ada adzan shubuh. Suatu ketika Tuanku Imam melihatnya. Tuanku Imam mengajak Bujang ke sebuah menara tinggi melihat pemandangan dari atas. Di tempat itulah Bujang mendapat jawaban dari pertanyaannya selama ini. Tuanku Imam banyak menjelaskan sesuatu membuat semangat bujang kembali lagi dan segera menyusun serangan balik kepada Basyir. Bujang mengumpulkan orang-orang yang masih setia kepadanya.
Rencana Bujang berjalan mulus sampai hari yang sudah ditentukan. Bujang kewalahan karena dia kalah jumlah dengan orang-orang yang mengabdi pada Basyir. Saat Bujang mulai terdesak, Bujang merasakan tubuhnya bertransformasi. Dua khanjar milik Basyir melesat, sekejap tubuh Bujang seperti menghilang. Basyir semakin geram. Pasukan Salonga yang sudah ditunggu-tunggu muncul dengan kekuatan penuh. Meskipun Basyir tidak mau mengalah, dia tetap kalah. Saat itu juga pertarungan selesai. Basyir dan Tuan Muda Lin dibiarkan pergi dengan aman. Keluarga Tong menang.
Akhirnya, empat minggu setelah perang Bujang memutuskan menjenguk pusara Mamak dan Bapak di Talang. Mengunjungi bekas rumahnya. Bujang pulang, tapi tidak pulang ke pangkuan Mamak. Bujang pulang kepada panggilan Tuhan. Panggilan Tuhan untuk hidup kembali ke jalan-Nya.

Pertanyaan :
  1. Judul: Pulang
Tema: Perjuangan
Ya ada keunikan dalam pengembangan judul dan temanya yaitu dikembangan dengan menarik dan tidak terduga. Selain itu cerita yang dikembangkan berbobot, maksudnya tidak receh dan mengandung pelajaran kehidupan.
  1. Untuk latar waktu, karena alur ceritanya campuran yaitu maju dan mundur maka latar waktu dikembangkan setiap perpindahan alurnya dan juga ketika peristiwa demi peristiwa terjadi. Untuk latar tempat, digambarkan dengan detail sehingga pembaca dapat membayangkan bagaimana tempat kejadiannya. Untuk latar suasana, disampaikan dengan penggambaran suasana hati tokoh sehingga sangat terasa bagaiman keadaan saat itu.
  2. Tokoh dan watak tokoh dikembangkan dengan berbagai cara dan dengan detail sehingga pembaca merasa memahami bagaimana watak dari masing-masing tokoh sehingga merasa menjadi bagian dari cerita tersebut.
  3. Pilihan kata yang dipakai baku dan terdapat unsur kebudayaan Indonesia sehingga memiliki keunikan tersendiri ketika membacanya. Namun, walaupun begitu tidak membuat pembaca bosan ataupun merasa itu hal yang kuno karena pembawaan dan alur ceritanya menarik.
  4. Ya benar kalimat-kalimat yang digunakan pengarang memiliki keunikan dan kekuatan dalam membangun cerita.
  5. Tokoh yang saya sukai adalah Bujang, karena ia adalah sosok yang berani, pantang menyerah, kuat, cerdas, serta yakin akan tujuannya.