Minggu, 29 September 2019

Teks Eksplanasi

Self Harm atau Self Injury


       Self harm atau Self injury adalah keadaan dimana seseorang melakukan perilaku untuk menyakiti diri sendiri. Self harm itu sendiri termasuk dalam kategori nonsuicidal self injury (NNSI). NSSI adalah menyakiti tubuh secara disengaja tanpa berniat untuk bunuh diri dan untuk tujuan yang tidak disetujui secara sosial. Bagi sebagian orang self harm bukanlah sesuatu yang awam bahkan di kalangan pelajar. Namun, seringkali orang-orang salah memahami maksud atau tujuan maupun penyebab dari seseorang yang melakukan self harm, yang mengakibatkan salahnya penanganan bahkan mereka cenderung mengucilkan dan mengejek orang yang melakukannya. Hal tersebut disebabkan karena  kurangnya pemahaman dan sosialisasi mengenai self harm itu sendiri serta diimbangi dengan dominan orang yang melihat sesuatu hanya dari satu sisi bukan berbagai sudut pandang, padahal yang terjadi berkaitan dengan hal yang belum tentu mereka pahami. Sehingga secara tidak langsung, mereka menjadi salah satu dari faktor pendukung yang membuat adanya peningkatan terjadinya self harm.
            Menurut penelitian dari Asosiasi Psikolog Amerika, perilaku self-injury menambah dua kali lipat pada tahun 1997-2007 serta beberapa peneliti mengatakan bahwa self-injury dapat meningkat antara awal 1990-an sampai abad ke-21 dan hal tersebut banyak terjadi khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda terbukti oleh studi yang menemukan bahwa remaja dan dewasa muda 17-28% di beberapa titik hidup telah melukai diri sendiri, biasanya dimulai pada awal masa remaja, antara sekitar 11-15 tahun, proporsi tertinggi jatuh pada umur 10 tahun sampai 20 tahunSeperti yang telah disebutkan, bahwa pelaku self harm tidak berniat untuk melakukan bunuh diri psikolog meneliti bahwa pada kenyataannya, mereka hanya ingin cedera. Hal itu disebabkan oleh beberapa alasan dan alasan tersebut pun adalah persoalan personal bagi setiap orang. Sulit mengekspresikan emosi merupakan salah satu dari alasan tersebut. Self harm menjadi pilihan karena sulit rasanya mengungkapkan beban berat yang dirasakan melalui kata-kata. Bahkan, para ahli percaya bahwa kebanyakan orang menyakiti diri sendiri untuk mengekspresikan emosi negatif mereka. Menyakiti diri di mana lukanya dapat terlihat jelas di mata orang lain juga menjadi cara untuk menunjukkan betapa buruknya kondisi yang dirasakan. Selain itu, memberitahukan bahwa seseorang merasa perlu dan pantas untuk diperhatikan. Demikian pula, profesor psikologi dari Harvard University, Matthew Nock menganggap bahwa ada empat alasan utama orang melukai diri sendiri, yaitu Meringankan ketegangan dan menghentikan pikiran buruk, Untuk membuktikan bahwa ia masih bisa "merasa", meskipun rasa itu rasa sakit, Agar dapat berkomunikasi kepada orang lain, untuk memberitahu orang lain bahwa ia "sakit", Supaya orang lain tidak menganggunya.
               Dengan fakta demikian, seharusnya jika kita menjumpai teman kita yang melakukan self harm, sepatutnya kita merangkulnya. Posisikanlah diri kita sebagai mereka, jadikan bahu kita sebagai sandaran tempat mereka berbagi. Perlu diingat sikap sabar sangat diperlukan untuk menyikapi hal ini karena penelitian melaporkan bahwa 80% orang akan berhenti melukai diri mereka sendiri dalam waktu lima tahun. Karena jika kita kehilangan rasa sabar, maka empati dan peduli pun berangsur-angsur akan hilang. Sehingga bisa saja kita menjadi faktor pendukung parahnya self harm yang orang tersebut lakukan. Walaupun sedikit yang kita lakukan hal itu dapat sangat berpengaruh untuk membantu menurunkan tingginya pelaku self harm.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar