Selasa, 01 Oktober 2019

Teks Ceramah

Kecerdasan Manusia


            Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
        Hadirin yang saya hormati, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunianya kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal'afiat. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan keturunannya hingga akhir zaman.
     Hadirin, seperti yang kita ketahui, bahwa setiap hari di negara kita Indonesia tingkat pengangguran semakin meningkat. Salah satu penyebabnya adalah adanya kegagalan dalam proses pendidikan yang dijalani seseorang selama hidupnya. Menurut taksonomi Bloom suatu proses belajar yang diharapkan berhasil adalah harus menyentuh 3 aspek ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Namun, proses belajar selama ini ternyata kurang menekankan pada ranah afektif sehingga akibatnya hasil pelajaran menjadi kurang bermakna. Anak terlalu ditekankan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan ranah kognitif tingkat rendah tanpa melewati ranah afektif terebih dahulu, tetapi langsung lompat kepada ranah psikomotor. Oleh karena itu, hal yang perlu diperhatikan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah sudah selayaknya diperbaharui dengan paradigma baru, bahwa bukan hanya IQ (Intelegence Quotient) yang penting dan perlu dikembangkan, 3 kecerdasan lainnya pun diperlukan yang pada akhirnya diperuntukkan untuk mengoptimalkan fungsi otak manusia.
      Dari 3 kecerdasan selain IQ tadi, yang pertama yaitu EQ (Emotional Quotient). EQ ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman pada pertengahan tahun 1990. EQ yang disebut kecerdasan emosional merupakan kecerdasan yang berkaitan dengan kecakapan seseorang dalam mengelola emosi ataupun perasaan. Oleh karena itu, EQ memberi seseorang kemampuan untuk memiliki rasa empati, cinta, motivasi, dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kebahagian. Karena akan percuma jika seseorang hanya pintar namun  bersikap brutal sehingga tidak dapat mengontrol emosi, itu hanya akan membuat hilangnya konsentrasi dan kejernihan pikiran.
            Menurut Thomas Alva Edison "Genious = 1% inspiration, but 99% is prespration" artinya, seorang yang jenius adalah 1% inspirasi tetapi 99% dicapai melalui usaha (keringat). Dari ungkapan tersebut jelaslah bahwa untuk mencapai apa yang kita inginkan, kita harus bekerja keras. Tetapi, tidak semua kehendak atau keinginan kita dapat dicapai dan sulit pasti mengatasi kegagalan yang tentunya akan sangat mengecewakan, namun bagaimana mengubah kegagalan menjadi peluang untuk meraih sukses. Hal ini berhubungan dengan kecerdasan kedua yaitu AQ (Adversity Quotient) yang ditemukan oleh Paul G. Stoltz. Ia mengatakan bahwa tantangan bisa dirubah menjadi peluang, ada faktor lain berupa motivasi dan sikap pantang menyerah yaitu AQ yang harus ditumbuhkan dalam diri manusia. Stoltz juga membagi 3 tipe manusia, yang pertama Quitters (mereka berhenti) maksudnya orang yang berhenti di tengah proses pendakian, gampang putus asa dan menyerah. Yang kedua Campers (pekemah) mereka orang yang tidak mencapai puncak namun sudah puas dengan apa yang telah dicapai. Yang ketiga adalah Climbers (pendaki) yaitu sebutan Stoltz untuk mereka yang selalu optimistik, melihat peluang-peluang, melihat celah, dan selalu pantang menyerah. Stoltz menempatkan climbers pada piramida puncak hirarki kebutuhan yang disebut dalam teori Abraham Maslow yaitu aktualisasi diri. Bedanya dengan yang lain, hanya climbers yang yakin bahwa segala sesuatu bisa terlaksana, meskipun orang lain sudah putus asa dan menyerah dalam segala situasi dan kondisi.
      Kecerdasan yang ketiga adalah SQ (Spritual Quotient) atau kecerdasan spiritual yang diperkenalkan pada akhir abad ke-20 yang lalu oleh pasangan suami istri yang benama Danah Zohar dan Ian Marshal. SQ yakni kemampuan seseorang dalam mengadapi dan memecahkan persoalan eksistensial seperti persoalan makna dan nilai. Kecerdasan seseorang belumlah cukup hanya dengan IQ dan EQ saja karena tanpa SQ, manusia hanya mampu berkalkulasi dan merasakan tetapi tidak mampu menemukan makna atau nilai yang ada dibalik realitas kehidupan. Bahkan menurut mereka SQ merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan dua jenis kecerdasan sebelumnya dan merupakan kecerdasan tertinggi pula. Manusia yang berkecukupan secara materi namun selalu gelisah dalam hidupnya dan seorang yang jenius tetapi tidak pernah merasakan ketenangan dalam hidupnya adalah contoh sederhana dari manusia yang tidak cerdas secara spiritual karena ia gagal dalam menemukan makna dalam kehidupannya. Selain itu, perasaan diri terasing, putus asa, merasa diri tak punya harga adalah gejala-gejala seseorang miskin secara spiritual.
       Hadirin yang saya hormati, setelah apa yang saya jelaskan diharapkan dapat mengubah pandangan serta pemikiran hadirin mengenai kecerdasan manusia. Bahwasanya bukan hanya IQ saja yang penting tetapi 3 kecerdasan lain yang saya jelaskan tadi sangat berpengaruh pada pengoptimalan otak manusia. Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita merendahkan manusia yang tidak unggul dalam IQ dan berlebihan dalam membanggakan manusia yang unggul IQ nya. Sekian yang dapat saya sampaikan, semoga apa yang tadi telah dijelaskan dapat bermanfaat dan dijadikan pelajaran. Mohon maaf apabila ada kesaahan dan terima kasih atas perhatian hadirin.
             Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.

Minggu, 29 September 2019

Teks Eksplanasi

Self Harm atau Self Injury


       Self harm atau Self injury adalah keadaan dimana seseorang melakukan perilaku untuk menyakiti diri sendiri. Self harm itu sendiri termasuk dalam kategori nonsuicidal self injury (NNSI). NSSI adalah menyakiti tubuh secara disengaja tanpa berniat untuk bunuh diri dan untuk tujuan yang tidak disetujui secara sosial. Bagi sebagian orang self harm bukanlah sesuatu yang awam bahkan di kalangan pelajar. Namun, seringkali orang-orang salah memahami maksud atau tujuan maupun penyebab dari seseorang yang melakukan self harm, yang mengakibatkan salahnya penanganan bahkan mereka cenderung mengucilkan dan mengejek orang yang melakukannya. Hal tersebut disebabkan karena  kurangnya pemahaman dan sosialisasi mengenai self harm itu sendiri serta diimbangi dengan dominan orang yang melihat sesuatu hanya dari satu sisi bukan berbagai sudut pandang, padahal yang terjadi berkaitan dengan hal yang belum tentu mereka pahami. Sehingga secara tidak langsung, mereka menjadi salah satu dari faktor pendukung yang membuat adanya peningkatan terjadinya self harm.
            Menurut penelitian dari Asosiasi Psikolog Amerika, perilaku self-injury menambah dua kali lipat pada tahun 1997-2007 serta beberapa peneliti mengatakan bahwa self-injury dapat meningkat antara awal 1990-an sampai abad ke-21 dan hal tersebut banyak terjadi khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda terbukti oleh studi yang menemukan bahwa remaja dan dewasa muda 17-28% di beberapa titik hidup telah melukai diri sendiri, biasanya dimulai pada awal masa remaja, antara sekitar 11-15 tahun, proporsi tertinggi jatuh pada umur 10 tahun sampai 20 tahunSeperti yang telah disebutkan, bahwa pelaku self harm tidak berniat untuk melakukan bunuh diri psikolog meneliti bahwa pada kenyataannya, mereka hanya ingin cedera. Hal itu disebabkan oleh beberapa alasan dan alasan tersebut pun adalah persoalan personal bagi setiap orang. Sulit mengekspresikan emosi merupakan salah satu dari alasan tersebut. Self harm menjadi pilihan karena sulit rasanya mengungkapkan beban berat yang dirasakan melalui kata-kata. Bahkan, para ahli percaya bahwa kebanyakan orang menyakiti diri sendiri untuk mengekspresikan emosi negatif mereka. Menyakiti diri di mana lukanya dapat terlihat jelas di mata orang lain juga menjadi cara untuk menunjukkan betapa buruknya kondisi yang dirasakan. Selain itu, memberitahukan bahwa seseorang merasa perlu dan pantas untuk diperhatikan. Demikian pula, profesor psikologi dari Harvard University, Matthew Nock menganggap bahwa ada empat alasan utama orang melukai diri sendiri, yaitu Meringankan ketegangan dan menghentikan pikiran buruk, Untuk membuktikan bahwa ia masih bisa "merasa", meskipun rasa itu rasa sakit, Agar dapat berkomunikasi kepada orang lain, untuk memberitahu orang lain bahwa ia "sakit", Supaya orang lain tidak menganggunya.
               Dengan fakta demikian, seharusnya jika kita menjumpai teman kita yang melakukan self harm, sepatutnya kita merangkulnya. Posisikanlah diri kita sebagai mereka, jadikan bahu kita sebagai sandaran tempat mereka berbagi. Perlu diingat sikap sabar sangat diperlukan untuk menyikapi hal ini karena penelitian melaporkan bahwa 80% orang akan berhenti melukai diri mereka sendiri dalam waktu lima tahun. Karena jika kita kehilangan rasa sabar, maka empati dan peduli pun berangsur-angsur akan hilang. Sehingga bisa saja kita menjadi faktor pendukung parahnya self harm yang orang tersebut lakukan. Walaupun sedikit yang kita lakukan hal itu dapat sangat berpengaruh untuk membantu menurunkan tingginya pelaku self harm.

Teks Prosedur


Cara Memasak Tumis Kangkung Saus Tiram



          Kangkung merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak terdapat di kawasan Asia terutama di kawasan yang berair. Maka dari itu, kita seringkali menjumpai kangkung di dapur-dapur rumah keluarga maupun rumah makan di Indonesia. Selain mudah untuk dimasak, kangkung juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia. Untuk iu, ada beberapa bahan dan alat yang harus disiapkan serta langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut.
1.      Siapkan Alat dan Bahan yang Dibutuhkan
           Bahan yang harus disiapkan, yaitu :

  • 3 ikat kangkung
  • 5 sendok makan saus tiram
  • 3 siung bawang putih
  • 4 siung bawang merah
  • 2 sedok makan kecap manis
  • 3 sendok makan minyak goreng
  • 2 helai daun salam
  • Lengkuas
  • 2 buah cabai keriting merah
  • 1/4 potong tomat
  • Bawang daun
  • 1/2 bawang Bombay
  • Garam
  • Gula pasir
  • Penyedap rasa
  • Air
      Alat yang harus disiapkan :
  • Pisau
  • Telenan
  • Kuali
  • Spatula
  • Sendok makan
  • Piring
  • Kompor
2.      Potong lalu bersihkan kangkung dengan air yang mengalir.
3.      Tiriskan kangkung.
4.      Kupaslah bawang putih, bawang merah, dan bawang bombay.
5.      Irislah tipis lalu cincang bawang putih, bawang merah, dan bawang bombay yang telah dikupas.
6.      Potonglah tomat menjadi potongan yang kecil.
7.  Cucilah bawang daun dan cabai keriting dengan air mengalir lalu irislah dengan arah yang menyerong.
8.      Setelah itu, irislah lengkuas sebanyak 3 irisan.
9.   Siapkan kuali yang telah diberi 3 sendok makan minyak goreng, letakkan diatas kompor yang menyala.
10. Setelah minyak panas, masukkan bawang putih dan bawang merah lalu tumis sebentar lalu masukkan bawang bombay dan tumis hingga harum.
11.  Jika sudah harum, masukkan tomat dan cabai keriting yang telah dipotong lalu tumis.
12.  Setelah itu, masukkan lengkuas dan daun salam lalu tumis.
13. Setelah semua bahan yang dimasukkan tercampur rata dan harum, tuangkan 2 sendok makan kecap manis, tumis sebentar lalu tuangkan 5 sendok saus tiram, tumis sebentar dan tuangkan air secukupnya.
14.  Setelah air medidih, masukkan kangkung dan bawang daun, lalu tumis hingga rata.
15.  Masukkan garam, gula pasir, dan penyedap rasa secukupnya hingga rasanya balance lalu tumis hingga merata.
16.  Jika tingkat kematangan sudah cukup, matikan kompor lalu sajikan diatas piring.
Dengan mengikuti langkah-langkah diatas dengan benar, memasak kangkung akan jadi enak dan lebih mudah. Karena selain mudah dimasak, kangkung memiliki banyak manfaat untuk mencegah penyakit jadi marilah masak dan jadikan kangkung sebagai salah satu menu andalan keluarga.